Terang Pesan Antar Makanan, Bagaimana Higienisnya?

Terang Pesan Antar Makanan, Bagaimana Higienisnya?

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Ira Aprilianti mengatakan, pertumbuhan layanan pesan mengiringi makanan online terutama akibat pandemi menetapkan didukung oleh regulasi yang menjamin keamanan pangan.

Servis pesan antar makanan memberikan opsi dan kenyamanan bagi konsumen. Tetapi, di saat yang bersamaan, konsumen seakan melepaskan haknya untuk menyelia dan mengetahui bagaimana pangan dengan ia konsumsi dipersiapkan dan dikemas karena diserahkan kepada pihak ketiga; pengirim.

“Dibutuhkan regulasi dan koordinasi antarpemangku kepentingan yang mampu menjamin keamanan pangan, menciptakan rasa aman dan kepercayaan sekali lalu mendukung tumbuhnya sektor ini dan mendukung e-commerce di Indonesia. Contohnya, saat ini belum ada regulasi sahih terkait traceability atau keterlacakan distribusi pangan dari petani ke konsumen ( farm to fork ) yang dapat memetakan risiko dan mengatasi masalah keamanan bertabur jika terjadi, ” ujar Pangsa, Kamis (6/8/2020).

Layanan pesan antar sasaran online diperkirakan tumbuh 11, 5% di setiap tahun dari 2020 hingga 2024. Penjualan makanan berkontribusi sebesar 27, 85? ri total penjualan e-commerce di 2018, menjadikannya kategori terbesar dalam transaksi e-commerce .

Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat setiap tarikh, terutama di masa pandemi. Pelaksanaan berbagai kebijakan pembatasan sosial memproduksi konsumen lebih nyaman berada pada tempat masing-masing.

Servis pesan antar makanan online , selain memperluas pilihan dan kenyamanan bagi konsumen, juga menciptakan kesempatan ekonomi bagi penjual dan pengirim. Namun, hal itu juga menciptakan tantangan keamanan bertabur bagi konsumen yang berbeda dibanding transaksi secara langsung.

Ia menjelaskan, tanggungan untuk standar keamanan pangan, sertifikasi pra-pasar, dan pengawasan pasca-pasar terletak pada BPOM, Kemenkes, dan negeri kota/kabupaten, yang juga belum efektif implementasinya.

Lihat Serupa

Cara pendaftaran yang rumit, salah satunya, membuat perusahaan-perusahaan kecil tidak mencantumkan usaha makanan/restoran mereka sebelum memasuki pasar online . Sementara itu, kurangnya kapasitas & koordinasi di antara lembaga-lembaga negeri menghambat pengawasan pasca-pasar yang efektif.

Untuk memperkuat bentuk keamanan pangan untuk layanan pesan antar online , pemerintah kota dan kabupaten harus mengurangi hambatan, salah satunya terpaut pendaftaran, sebagai persyaratan untuk mendalam ke pasar bagi perusahaan ukuran rumah tangga/kecil.

Cara sertifikasi pra-pasar harus sederhana, menyampaikan pengetahuan pada pedagang tentang kaki keamanan pangan, dan memfasilitasi penilikan dan penelusuran masalah keamanan bertabur.

“Pemerintah perlu membabitkan sektor swasta dalam penyusunan regulasi karena sektor swasta merupakan pihak yang terlibat langsung dalam servis ini. Kemampuan teknis platform online beserta inisiatif yang telah mereka lakukan secara mandiri bisa menjadi petunjuk yang berguna saat perumusan regulasi. ”

“Selain itu, kita juga bisa belajar best practices dari Uni Eropa dan Tiongkok yang mengutamakan kolaborasi pemerintah dan sektor swasta dalam merumuskan prakarsa keamanan pangan, ” pungkasnya.