Tanpa Salah Langkah Berinvestasi

Tanpa Salah Langkah Berinvestasi

VIVA   –  Zaman ini perkembangan teknologi semakin memudahkan berbagai kalangan untuk berinvestasi. Pada umumnya, investasi merupakan suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk melindungi ukuran aset yang dimilikinya.

Investasi juga bertujuan untuk memperoleh keuntungan atau menambah nilai substansi dari modal awal yang dikeluarkan oleh si pemilik. Saat tersebut, sudah banyak orang yang menyadari pentingnya berinvestasi. Salah satunya dana pensiun.

Menyuarakan: Laris Manis, Perusahaan Ini Jadi Rebutan Investor Global

Guru Mulia Keuangan dan Pasar Modal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara, Budi Frensidy menuturkan, beberapa perkakas di pasar keuangan bisa menjadi pilihan, dengan catatan memiliki risiko kecil.

Sebut selalu Surat Berharga Negara (SBN), Surat Utang Negara (SUN), Surat Bernilai Syariah Negara (SBSN), Obligasi Negeri Ritel (ORI), serta obligasi korporasi berperingkat AAA. Mengenai investasi uang pensiun milik perusahaan pelat abang, ia mengatakan harus lebih likuid.

Namun, dana pensiun BUMN bisa ditempatkan di rekan uang seperti deposito. Meski begitu Budi mengingatkan satu hal. “Untuk investasi jangka pendek, tidaklah bijak (dana pensiun BUMN) ditempatkan pada saham dan properti, ” introduksi dia, Jumat, 16 Oktober 2020.

Data terakhir menunjukkan, dana pensiun BUMN mencapai Rp149 triliun atau 52 persen dari total dana purna bakti di Indonesia yang nilainya menyentuh Rp289 triliun. Dari dana pensiun BUMN yang sebesar itu, sekitar 68 persen atau Rp101 triliun adalah Dana Pensiun Pemberi Kerja Manfaat Pasti (DPPK MP).

Akan tetapi, sekitar 67 persen DPPK MP BUMN mempunyai rasio kecukupan dana (RKD) pada bawah 100 persen. Sedangkan RKD merupakan salah satu ukuran kesehatan tubuh DPPK MP. RKD adalah rasio kekayaan Dana Pensiun dibagi secara kewajiban Dana Pensiun.

Baca juga: Investor Gojek Lagi-lagi Suntik Induk Usaha Sendi. com Triliunan Rupiah

Jika RKD mencapai 100 persen atau lebih, maka pendanaan Dana Pensiun dalam keadaan pemberian terpenuhi ( fully funded ). Jika RKD beruang di bawah 100 persen, pendanaan Dana Pensiun disebut dalam laksana dana tidak terpenuhi ( unfunded ).

Sedangkan selisih kurang antara substansi Dana Pensiun dengan kewajibannya disebut kekurangan pendanaan (defisit). Adapun total defisit DPPK MP BUMN cenderung membesar.

Sementara itu, terjadi pula penambahan jumlah DPPK MP BUMN yang masuk pada kategori Dana Pensiun dengan RKD di bawah 100 persen. Patuh Budi, RKD DPPK MP BUMN yang berada di bawah 100 persen disebabkan oleh pertumbuhan perolehan yang lebih besar dari sangkaan dan return yang lebih hina dari target budget .

“Jadi, pemberian pensiun yang tadinya fully funded bisa berubah dalam satu tahun atau beberapa waktu ke depan menjelma unfunded . Untuk mengatasi RKD di bawah 100 persen, perlu ada injeksi ataupun setoran tambahan agar kekurangan itu bisa tertutupi, ” jelasnya.

Ia pun memperkirakan, lebih dari 80 persen DPPK MP BUMN memiliki portofolio investasi di dalam bentuk penyertaan langsung dan desa atau bangunan. Padahal, investasi tersebut tergolong kurang likuid, sehingga cenderung kurang optimal. Hal tersebut dikhawatirkan dapat berdampak terhadap likuiditas derma pensiun.

“Oleh sebab itu dibutuhkan semacam arahan investasi untuk DPPK MP BUMN supaya penempatan investasi dana pensiun lebih aman dan pengawasan lebih optimal, ” ungkap Budi.